Bedanya ada pada anggapan bahwa rumah islami itu soal hiasan. Rumah islami sering dipahami sebatas itu: pasang kaligrafi, ganti gambar bernyawa dengan motif geometris, pilih warna yang tenang. Semua itu benar, tapi belum cukup. Kaligrafi di dinding tidak mengubah apa pun kalau ruang tamu masih tembus langsung ke ruang keluarga.
Untuk klien yang menghendaki interior islami, yang kami putuskan lebih dulu adalah tata ruangnya: batas antara area tamu dan area keluarga, pemisahan kamar anak laki-laki dan perempuan, serta penempatan ruang pribadi supaya tidak mudah terlihat dari pintu masuk. Arah kiblat ikut dihitung untuk menentukan titik salat di rumah, termasuk tempat menyimpan mukena, sajadah, sarung, dan Al-Quran supaya tidak menumpuk di kamar.
Untuk kloset, di rumah yang masih dirancang arahnya bisa diatur sejak awal; di rumah yang sudah berdiri posisinya biasanya sudah terkunci jalur pipa, dan kondisi itu kami sampaikan sejak awal, bukan setelah Anda menemukannya sendiri.
Baru setelah itu soal dekorasi, dengan moodboard yang disusun tanpa gambar makhluk bernyawa sejak awal.
Tim kami desainer muslim, jadi hal seperti ini tidak perlu Anda jelaskan dari nol. Tapi layanannya terbuka untuk siapa saja dan tidak ada yang wajib.
Di luar itu, yang berlaku sama untuk setiap klien adalah kejelasannya, dan itulah arti amanah bagi kami: ruang lingkup, tahap revisi, dan output akhir disepakati tertulis sebelum pekerjaan dimulai, mengikuti prinsip syariah bahwa objek dan harga harus jelas.